Jalan – Jalan Ngedadak ke Curug Sawer & Situ Gunung

Kembali sebuah perjalanan traveling terjadi hanya karena “ngedadak”. Ya, biasanya suatu perjalanan yang telah tersusun rapih, perencanaannya matang seringkali tidak dapat terlaksana karena berbagai hal. Maka, saya pun merupakan orang yang memegang prinsip packing H-beberapa jam sebelum keberangkatan wkwkwk. Yaa dikarenakan seringnya traveling karena kata “ngedadak” tersebut.

Traveling kemarin pun sebenarnya diajakin teman saya si pak Yogi. H-1 sebelum keberangkatan pa Yogi bertanya kepada saya. Kurang lebihnya seperti ini “Besok ada rencana kemana? Jalan – jalan yu?”, saya pun menjawab “hayu, tapi kalau ga mudik ya”. Saya pun bertanya balik, “Emang, mau kemana gi?” . dia pun membalas “Itu ke Situ yang ada di Sukabumi tuh”. Lalu kami pun searching di internet mengenai Situ yang ada di daerah Sukabumi. Ketemulah nama Situ Gunung.

Situ Gunung merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di wilayah administrative Kabupaten Sukabumi. Terletak di bawah kaki Gunung Pangrango dan masuk ke dalam “Taman Nasional Gunung Gede Pangrango”.

 photo IMG_20140406_172426.jpg

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Akses menuju tempat ini cukup mudah dan beragam. Kenapa beragam, karena dapat ditempuh dengan berbagai kendaraan. Bahkan kendaraan Angkutan Kota juga ada dengan trayek Cisaat – Situ Gunung.

Berhubung kami dari start dari Bandung, maka kami harus menempuh jalur Bandung – Padalarang – Cianjur – Sukabumi Kota – Cisaat – Situ Gunung, sejauh kurang lebih 110 Km.

 photo map.png

Peta Bandung – Situ Gunung, Sukabumi

Untuk mendapatkan view objek foto lanskap yang baik biasanya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Untuk itu kami diniatkan berangkat jam 3 Pagi dari Bandung. Niat hanya tinggal niat karena pada kenyataannya kami baru berangkat jam setengah 9 pagi dikarenakan bangun jam 7 lebih hahaha.

Berbekal “ilmu” dari internet akhirnya kami start dari Bandung kurang lebih jam setengah 9. Untuk mengejar waktu langsung saja kutancapkan gas sepeda motor matic saya. Jalanan berkelok – kelok padalarang – cipatat – citatah – hingga rajamandala kulalui dengan mulus. Hingga jalur Cianjur – Sukabumi akhirnya motor kami pun harus pelan – pelan, hal tersebut dikarenakan Jalan Busuk yang menghantui kami. Banyak jalan berlubang yang siap menerkam siapa saja yang berani melewatinya pada kecepatan tinggi. Alhasil, jam 11 lebih kami baru tiba di Sukabumi Kota.

Dari Sukabumi Kota ke Situ Gunung tidaklah sulit, karena banyak rambu yang memberikan petunjuk kesana. Perjalanan pun dilanjut hingga menuju Kecamatan Cisaat. Nah, dari Cisaat inilah jika dari arah Bandung kita harus belok ke Kanan di sebelah Polsek Cisaat atau didepan Masjid agung Cisaat. Dari Cisaat – Situ Gunung kurang lebih 9 – 10 Km lagi perjalanan yang harus ditempuh dengan kondisi jalan yang lumayan baik, hanya saja setelah melewati Kadu Dampit akan ditemui jalan yang busuk. Untuk yang menggunakan kendaraan umum dapat menaiki angkot berwarna merah

Untuk memasuk wisata Situ Gunung dan Curug Sawer kita diharuskan membayar tiket masuk. Cukup murah untuk wisata alam ini. Saya, Yogi dan motor yang kami tumpangi hanya  diharuskan menebus 9000 rupiah saja.

Di tempat ini terdapat 2 destinasi wisata yang harus dikunjungi, yaitu Situ Gunung dan Curug Sawer. Dari tempat parkiran terdapat percabangan, jika ke kiri akan menuju ke Situ Gunung dengan jarak tempuh 1 Km, jika ke kanan akan menuju Curug Sawer dengan jarak tempuh sejauh 2 Km.

 photo IMG_20140406_122851.jpg

Petunjuk Arah

Terlebih dahulu saya dan pak Yogi sepakat untuk menuju Curug Sawer terlebih dahulu. Jalan berbatu cukup terjal dan setapak kami lalui dengan santai karena di setiap langkahnya kami abadikan berbagai macam momennya.

 photo IMG_20140406_124032.jpg

Pak Yogi in Action

 photo IMG_20140406_124223.jpg

Petunjuk arah selama perjalanan menuju curug sawer

 photo IMG_20140406_125631.jpg

Jalanan berbatu nan licin

 photo IMG_20140406_125944.jpg

Selokan yang jernih, andai di Bandung ada yang seperti ini

 photo IMG_20140406_130052.jpg

Kondisi jalan setapak menuju Curug Sawer

 photo IMG_20140406_130057.jpg

Hutan Hujan Tropis

 photo IMG_20140406_130254.jpg

Siluet Pak Yogi diantara rimbunnya pepohonan

 photo IMG_20140406_131004.jpg

Sepanjang perjalanan, terdapat 2 shelter untuk beristirahat

Dikarenakan popotoan terus selama perjalanan, butuh waktu kurang lebih 1,5 jam untuk mencapai curugnya. Sambil menunggu hujan reda, kami pun tak lupa melaksanakan solat Dhuhur terlebih dahulu.

 photo IMG_20140406_142207.jpg

Pintu masuk Curug Sawer

 photo IMG_20140406_140731.jpg

Musholla di Curug Sawer

 photo IMG_20140406_132925.jpg

Tempat Wudlu nya langsung dari sungai

Selepas solat, langit tampaknya bersahabat dengan kami. Cerah kembali!! Sehingga kami pun bersemangat untuk setidaknya melepas lelah di Curug Sawer.

 photo IMG_20140406_140947.jpg

Jembatan bambu di Curug Sawer

 photo IMG_20140406_142409.jpg

aliran air dari Curug Sawer

 photo IMG_20140406_142937.jpg

Curug Sawer broooo, akhirnya

 photo IMG_20140406_143546.jpg

Tempat bidadari turun dari khayangan wkwkw

 photo IMG_20140406_143604.jpg

air terjunnya deras

 photo IMG_20140406_144419.jpg

Pelangi yang tercipta dari cipratan Curug

Kurang rasanya jika ke Curug tetapi tidak mandi didalamnya, saya pun langsung bergegas membuka pakaian dan gejeburr

 photo DSC_0047.jpg

Segerrrrr brooo

Sampai jam 4 sore kami bergegas untuk menuju Situ Gunung, saat itu hujan deras sudah mulai turun lagi membasahi bumi. Berhubung sudah “like a pro”, jas hujan pun tidak ketinggalan untuk dibawa.

Menyusuri jalan setapak menuju parkiran, ditengah perjalanan terdapat petunjuk arah menuju Danau (Situ Gunung). Sebenarnya sih jalan ini merupakan jalan memotong agar tidak memutar ke parkiran. Tapi berhubung kondisi jalannya setapak dan lumayan terjal, sehingga jalur ini jarang dilalui banyak orang. Terlihat seringnya jalan yang tertutupi rimbunya pepohonan. Oia hati – hati di jalur ini juga seringkali banyak lintah yang siap hinggap ke tubuh orang yang melewatinya.

 photo IMG_20140406_163417.jpg

Kondisi jalan alternatif dari Curug Sawer menuju Situ Gunung

Kurang lebih 45 menit kami berjalan, akhirnya kami tiba di Situ Gunung juga😀

 photo IMG_20140406_170517.jpg

Musholla di Situ Gunung

 photo IMG_20140406_170442.jpg

Tempat Wudlu dan WC di Situ Gunung

 

 photo IMG_20140406_170738.jpg

Panorama View Situ Gunung

 photo IMG_20140406_170957.jpg

Santai sejenak di pinggir situ

 photo IMG_20140406_171141.jpg

Warga setempat menaiki rakit

 photo IMG_20140406_171355.jpg

Perahu Ngumpet

 photo IMG_20140406_171429.jpg

Tempat duduk untuk menikmati keindahan Situ Gunung

 photo IMG_20140406_172720.jpg

Fasilitas Outbond di Rakata Campsite

 

Categories: Gunung Pangrango, Hiking, Jawa Barat, Traveling | Leave a comment

Buku Panduan Mendaki Gunung

paduan pendaki

Buku ini ditulis oleh bang Ehwan Kurniawan, Terima kasih atas bukunya, sangat bermanfaat sekali

Link Download : http://goo.gl/Srh1hV

Categories: Mountain, News | Leave a comment

Menjelajah Pantai di Garut Selatan #2 (Pantai Santolo)

Selepas menikmati sunset di Pantai Sayang Heulang, kami langsung tancap gas menuju destinasi pantai selanjutnya yaitu Pantai Santolo. Jarak tempuh dari Pantai Sayang Heulang ke Pantai Santolo sekitar 2Km. Untuk masuk ke wilayah Pantai Santolo pengunjung akan dikenakan tarif sekitar 5rb/orang.
Awalnya kami kira Pantai Santolo akan sepi dari pengunjung, eehhh ternyata perkiraan kami salah, semakin malam semakin ramai. Karena pengunjung sedang banyak, penginapan yang sesuai dengan budget dan lokasi menjadi agak sulit untuk dicari. Tetapi berkat keahlian ‘birokrasi’ salah satu teman kami, akhirnya kami mendapatkan penginapan yang cocok untuk sekedar melepas lelah.

Memasuki hari ke 3 dari rangkaian acara #TourdeGarut, setelah semalaman melepas lelah di salah satu penginapan yang ada di pinggir Pantai Santolo. Pagi harinya kami langsung menuju ke Pantai untuk menikmati Sunrise. Rupanya kami salah perhitungan karena Sunrise di Santolo kurang begitu menarik seperti Sunset karena terhalang oleh pegunungan Garut Selatan. Walaupun begitu kami disana tetap menikmati suasana pantai dikala sunrise.

 photo DSC_0358.jpg

Sunrise in the Santolo Beach

 photo DSC_0351.jpg

Kepiting pun menikmati hangatnya sinar mentari pagi

 photo DSC_0401.jpg

Menikmati indahnya pantai dengan berfoto ria

Sebenarnya Santolo itu merupakan sebuah nama dari sebuah pulau didekatnya. Untuk menyebrang pulau Santolo dapat menumpang perahu dengan tarif 2rb – 5rb rupiah.

Di pulau Santolo ini terdapat banyak spot – spot fotografi yang indah,
agak sedih juga sih, berhubung saya hanya menggunakan kamera handphone untuk mengabadikan tiap momen jadi yaaa hasilnya pun pas-pasan.
berikut beberapa foto pas-pasan😀

 photo DSC_0336.jpg

Team #TourdeGarut dari Majalengka

 photo DSC_0312.jpg

Entah menunjuk apa?

 photo DSC_0396.jpg

Penahan ombak

 photo DSC_0404.jpg

Suasana di Pantai Santolo

Baca juga http://rickreykey.wordpress.com/2013/10/23/menjelajah-pantai-di-garut-selatan-2-pantai-santolo/

Categories: Beach, Jawa Barat, Traveling | 1 Comment

Semarang terlalu terang untuk kota yang teramat tenang

Kesan pertama menginjakan kaki di kota semarang adalah Kota ini terlalu terang untuk kota yang teramat tenang. Yah ucapan itu bentuk kamuflase dari kecintaan saya terhadap kota yang penuh nilai sejarahnya. Mungkin foto-foto dibawah ini cukup menjadi cerita tanpa cerita mengenai kota yang terlalu terang untuk kota yang teramat terang.
1. Lawang Sewu
Sebagian orang yang mendengarkan kata lawang sewu pasti berpikiran bahwa itu adalah salah satu tempat yang menyeramkan untuk dijambangi apalagi tengah malam. Bagi saya tempat seperti itu lah bentuk surga duniawi yang harus dikunjungi, sangat berharap bisa berjumpa dengan penghuni disana baik yang nyata maupun nyata tapi tak ada.

image

Menara utama lawang sewu, disini pertama kali datang sudah di sambut oleh seperti wanita cantik yang mengintip dari puncak menara.

Struktur dalam gedung

image

image

Bagian dalam yang baru direnovasi,bagian atas dari bangunan dibawah ini jauh lebih saik. Namun karena gelap tak ada pic yang bagus bray

image

image

image

image

image

image

Ini pic yang nampak indah,namun yang saya rasakan tak seindah dari pic diatas. Didalam gedung itu terdapat penjara bawah tanah tempat penyiksaan penduduk pribumi yang membangkan mengikuti perintah penjajah. Disana mereka disiksa ,dipukuli hingga mati tanpa perlawanan sama sekali. Selanjutnya terdapat sebuah gerbong kereta tua yang bisa saya katakan ini adalah ikon lawang sewu yang wajib di nikmati.

image

image

image

Pic lawang sewu dari luar pagar

image

image

image

2. Kota lama
Bagi yang menyukai aroma sejarah,tak salahnya ente berkunjung kekota lama, jarak dari lawang sewu menuju kekota lama tak begitu jauh sekitar 15menit jika naek becak pada malam hari dengan biaya sekitar 15ribu rupiah. Sebelum sampai di kota lama kalian akan disuguhi oleh pemandangan pijat tradisional disepanjang jalan. Dengan fasilitas kasur dan di temani suasana semarang yang terang dan teramat tenang merogoh kocek 50 ribu sebagai pelepas penat setelah beraktifitas seharian tak ada salahnya. Selain itu juga kita akan melewati kantor pos yang beraroma bangunan pada zaman belanda yang dikemas cukup menarik apalagi disampingnya terdapat toko yang bercitarasa kantor pos

image

Tak berapa lama aroma sejarah dari peninggalan belanda semakin terasa,mulai dari gedung tua yang dijadikan kantor, rumah makan,rumah warga memanjakan mata selama perjalanan di kota lama semarang

image

Gereja tua bagunan belanda

image

image

Rumah makan cianjur

image

Bangunan tua yang tersusun indah

image

image

image

Bayangan amang becak teman setia saya selama perjalanan

image

Lanjut gedung tua yang diperindah dengan gravity modern saat ini

image

Tempat shooting pilm apa juga boyeh

image

image

image

image

image

image

image

Taman perdu

image

image

image

image

image

Yah kota ini sudah terlalu lama diam sendiri melawan globalisasi yang menjadi jadi.

3. Simpang lima

image

image

Bagi yang ke semarang jangan lupa mampir ke simpang lima, disini surganya bagi pecinta makanan. Tapi karena waktu saya tak sempat mencicipi apa yang dijajakn oleh penjual disana.

Seperti biasa saya tak pernah membaca ulang apa yang telah saya tulis,jdi apabila ada kata2 yang aneh atau tak saik untuk dibaca mohon dimaafkan salam dua jempol …

image

Eh broo.. Sebelum kalian kesana jangan terlalu banyak membawa uang karena disana beda jauh sama ibu kota,nanti ribet sendiri

image

image

image

Sebelum pamit, dapet salam dari mentari pagi semarang

image

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Menjelajah Pantai di Garut Selatan #1 (Pantai Sayang Heulang)

Masih di hari ke 2 dari #TourDeGarut, setelah puas menjelajah “Surga” Talaga Bodas, siang harinya langsung turun ke daerah Garut Selatan. Sekitar pukul 12 siang lebih kami tiba di daerah Garut kota, rencananya sih mau istirahat dulu , tapi karena kami mengejar untuk melihat sunset di pantai, maka istirahat di Garut kota pun dibatalkan.

 photo sayangheulang.png

Peta Talaga Bodas – Pantai Sayang Heulang

Berhubung, belum melaksanakan shalat Dhuhur akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dahulu di Masjid sekitar Cisurupan.

 photo DSC_0237.jpg

Pemandangan Gn. Cikuray

Selepas shalat ashar (pukul 15.30) perjalanan dilanjutkan kembali, sepanjang perjalanan kanan kiri jalan ditumbuhi pepohonan lebat, jurang/gawir, serta hamparan kebun teh, membuat perjalanan menjadi tak bosan.

 photo DSC_0254.jpg

Hamparan kebun teh

 photo DSC_0260.jpg

Pemandangan berbukit

 photo DSC_0267.jpg

 photo DSC_0270.jpg

 photo DSC_0277.jpg

 photo DSC_0278.jpg

Dikarenakan masih hari libur, ternyata banyak rider atau traveler lain yang juga menuju pantai di garut selatan.

 photo DSC_0281.jpg

Rombongan byson saat menaklukan daerah gunung gelap

 photo DSC_0261.jpg

Rombongan byson

Ternyata perjalanan dari Garut kota lumayan jauh, dikarenakan kondisi jalan dari Cikajang – Cisompet tidak terlalu bagus sehingga motor pun melaju dengan kecepatan 30 – 40 Km. Berbeda halnya dengan jalan dari Cisompet hingga Pameungpeuk (sekitar 20 Km-an) anda akan dimanjakan dengan jalan berhotmix mulus, sehingga motor dapat melajur kecepatan 60 Km – 80 Km.
Sekitar pukul 17.00 akhirnya kami tiba di daerah pameungpeuk. Karena rencana kami akan menginap di Pantai Santolo maka, kami putuskan untuk menghabiskan serta melihat sunset di Pantai Sayang heulang.

 photo DSC_0335.jpg

AKhirnya tiba di pantai juga

 photo DSC_0333.jpg

 photo DSC_0332.jpg

Sejumlah pengunjung bercengkrama sembari menikmati keindahan Sayang Heulang

 photo DSC_0319.jpg

 photo DSC_0306.jpg

 photo DSC_0305.jpg

 photo DSC_0304.jpg

 photo DSC_0298.jpg

 photo DSC_0297.jpg

 photo DSC_0295.jpg

Baca juga ya http://rickreykey.wordpress.com/2013/09/21/menjelajah-pantai-di-garut-selatan-1-pantai-sayang-heulang/

Categories: Beach, Jawa Barat, Traveling | Leave a comment

Menuju Lembang lewat Cigending, Ujung Berung

ernah ke Lembang kan ? mungkin bagi teman – teman yang pernah ke Lembang, pasti akan lewat jalur setiabudhi kalau dari arah Bandung. Nah kalau misalnya lewat jalur lain ? ada ga yah ?. Saya coba cari jalur lain menggunakan Google Maps untuk ke Lembang selain melewati jalan Setiabudhi. Dan akhirnya menemukan sebuah jalur yang cukup panjang. Jalur tersebut terbentang dari Ujung Berung menuju Lembang.  Saya bersama teman saya, Ricki Iqbal dan  Abdun Wijaya yang keduanya merupakan teman sekelas saya di Ilmu Komputer UPI, mengawali perjalanan kami melewati Pasar Ujung Berung kemudian menyusuri jalan Cigending. Jalan dari Pasar Ujung Berung masih bagus, jalannya ada yang dibeton dan di aspal. Kemudian saat menuju desa selanjutnya jalan mulai berbatu.

Beberapa tempat yang dilewati di di bagian pertama ini sebelum menuju Bukit Tunggul adalah, Gadog,  Cipanjalu, Pasirwangi, dan Palalangon. Desa yang dilewati memiliki bangunan – bangunan rumah panggung. Pemandangan di sepanjang jalur ini pun sangat memukau.  Ada hutan pinus, terasering, pohon kina, dan pohon lain yang tidak saya ketahui jenis pohonnya. Penduduk ditempat yang kami lewati ini mempunyai mata pencaharian sebagai petani, pengolah hasil hutan, peternak, pedagang, dan ada juga yang membuka bengkel. Kami mengambil dulu beberapa foto dengan berlatar belakang hutan dan gunung :)

Nah kami sampai di tempat yang dinamakan Wisata Bukit Tunggul. Sebelum sampai di tempat ini kami melihat petunjuk jalan  yang bertuliskan Wisata Kebun Kina. Memang di Bukit Tunggul ini terdapat pabrik pengolahan kina. Dengan tiket Rp. 5000 teman – teman bisa menikmati keindahan Curug Batu Sangkur, mempelajari Kina di Teraz Kina, melihat Situ Sangkuriang, menuju Gunung Pangparang, menuju Gunung Bukit Tunggul, dan menuju Gunung Palasari.

Kami memutuskan untuk mengunjungi dulu Curug Batu Sangkar. Akses jalan menuju tempat tersebut sangat bagus, dan sesampainya disana kami disuguhkan sebuah curug yang sudah dipugar. Di curug tersebut terdapat taman yang menghiasai curug tersebut. Terkesan tidak alami, tapi cukup membuat suasana hati tenang. Pemandangan sekitarnya jelas masih hutan dan awan yang jaraknya sangat dekat. Seperti biasa kami mengambil foto terlebih dahulu dan melanjutkan perjalanan berikutnya. Kami coba susuri jalan tanjakan ke atas dan menemukan sebuah perumahan warga. Ada juga flying fox yang tidak terurus. Setelah cukup jauh menyusuri jalan yang berbatu kami menanyakan kepada warga yang sedang membawa muatan dari arah gunung dan menanyakan apakah jalur tersebut menuju Situ Sangkuriang atau bukan. Dan ternyata kami salah jalan. Jalur tersebut menuju Gunung Pangparang dan Gunung Bukit Tunggul. Kami belum sempat kesana karena akses jalan yang tidak bagus dan waktu sudah menjeland dzuhur.

Akhirnya kami putar balik arah, dan segera menuju Situ Sangkuriang melewati jalur bawah. Sesampainya  disana kami menikmati pemandangan lagi yah masih hutan dan taman yang menghiasi situ tersebut. Situ Sangkuriang ini dimanfaatkan pihak perkebunan untuk menjadi turbin yang memasok sejumlah energi listrik bagi warga di kamp  – kamp perkebunan kina. Kami pun istirahat dulu di sebuah tenda di dekat situ sambil melihat pemandangan langit yang begitu ‘cekas’ dan awan pun sangat cepat bergerak. Begitu awan mendung datang kami bergegas pulang dari Bukit Tunggul.

Selepas kami dari Bukit Tunggul. Kami masih menyusuri jalan berbatu yang dikelilingi oleh pohon – pohon pinus. Sepanjang jalan kami melihat warga yang membawa rumput, ada juga yang membawa kina, ada juga siswa – siswi smp dan smu yang mungkin tinggal di kamp – kamp pengolahan kina. Kami melewati turunan dan sampai di sebuah desa yang dinamakan Sunten Jaya. Menurut saya desa ini cukup eksotis karena berada di lembah gunung. Rumah – rumah panggung masih banyak ditemui dan ada juga kebun – kebun organik yang ada di sekitar perumahan warga. Di sepanjang jalan desa Sunten Jaya ini jalan bagus karena sudah diaspal. Paling ada beberapa bagian jalan yang berlubang. Sebelum sampai Desa selanjutnya yaitu Cibodas, kami melihat tebing yang cukup tinggi. Kemudian saat melewati jalan Desa Cibodas. Kami melihat sebuah tugu Taman Hutan Raya Ir Haji Juanda. Menurut Ricki, tempat tersebut adalah Wisata Curug Maribaya yang bisa tembus ke Dago Pakar melewati Gua Jepang dan Goa Belanda. Kami pun tetap menyusuri jalan hingga Wangun Harja dan menuju Lembang. Sebelum menuju Lembang kami melewati jalan yang dinamakan Jalan Maribaya. Jalan tersebut menuju Lembang. Ada juga persimpangan yang menunjukan jalur untuk menuju Dago melewati Dago Giri. Tapi kami tidak lewat sana karena kami akan menuju Lembang. Kemudian kami susuri jalan Maribaya tersebut, dan sampai di persimpangan lagi yang menunjukan jalan untuk ke Dago via Punclut. Kami tetap lewati jalan utama sampai akhirnya tiba di Pasar Lembang dan kami menuju kampus kami, Universitas Pendidikan Indonesia sebagai tujuan akhir :)

Saya pikir jalur Cigending menuju Lembang ini merupakan jalur yang mempunyai potensi wisata :) , bisa sebagai wisata kebun atau wisata hutan. Mungkin jika dibuka camping ground bisa juga. Jalur ini juga bisa dijadikan arena untuk jalur Motor Cross dan Mountain Bike. Jalur ini setengah jelek dan setengah bagus. Sebelum bukit tunggul jalan berbatu dan sesudahnya jalanan sudah diaspal. Wisata Bukit Tunggul pun tampaknya belum banyak pengunjung seperti wisata di Ciwalini atau di Pangalengan. Mungkin dengan promosi yang baik dan akses jalan yang bagus Wisata Bukit Tunggul bisa menjadi salah satu tempat Wisata di utara Bandung. Kemudian beberapa desa seperti Sunten Jaya dan Cibodas bisa dijadikan Eco Wisata bagi penduduk kota yang ingin melihat kehidupan desa. Oh yah di beberapa rumah di desa tersebut juga sudah menggunakan biogas dari kotoran ternak sapi sebagai energi untuk memasak :D . Hebat

Semoga Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung bisa mengelola pemukiman dan hutan di sepanjang jalur ini :) jangan sampai digantikan oleh pembangunan – pembangunan yang bisa merusak air bersih dan hilangnya cagar alam hehe

sumber : http://ridwanbejo.wordpress.com/2013/07/24/menuju-lembang-lewat-cigending-ujung-berung/

Categories: Activity, Gunung Manglayang, Jawa Barat, Mountain, News, Provinsi, Traveling | Leave a comment

Hidden Paradise itu bernama Talaga Bodas

Semalam suntuk menikmati rendaman air panas di Darajat Pass, pagi hari nya kami menuju Garut kota untuk sekedar mencari sarapan. Ya, seorang Traveling itu tak boleh membiarkan dirinya tersiksa karena kelaparan karena itu semua akan menghambat proses menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan YME.

Yah walaupun sarapan kami hanyalah sepiring Nasi Kuning dioplos dengan Nasi Uduk kami tetap mensyukuri itu semua.

 photo DSC_0017.jpg

Nasi kuning dioplos dengan nasi uduk

Selesai sarapan, perjalanan akan dilanjutkan menuju Gunung Piramida dan Talaga Bodas. Arah yang kami tempuh yaitu menuju Kecamatan Wanaraja (Garut sebelah utara) .

 photo Talagabodas.png

Peta menuju Talaga Bodas

Continue reading

Categories: Jawa Barat, Mountain, Traveling | Tags: , , | Leave a comment

Semalam di Darajat Pass

Sesungguhnya #TourDeGarut ini merupakan agenda touring yang tidak terencana dalam waktu dekat, ide iseng ini muncul dari teman saya Aji yang ingin menjelajah setiap daerah yang ada di Indonesia khususnya Provinsi Jawa Barat, provinsi tempat kami bernaung. Saya bersama Tera menyanggupi saja ide iseng teman kami, soalnya kami kira ah paling ini mah hanya sekedar wacana saja. Ternyata Aji menganggap kesanggupan kami itu sebagai sesuatu yang serius. Tentu saja, aku pun rada riweuh menyiapkan segala sesuatunya, terutama masalah dana.. hehehe

Seminggu sebelum keberangkatan aku dihubungi lagi oleh mereka katanya kalau tanggal 16-18 Agustus kami akan capcus #TourDeGarut. Posisi start dimulai dari Jatinangor. Pada awalnya berangkat pukul 18.00 WIB, tapi karena ada sesuatu hal, yaitu menanti teman kami yang berangkat dari Majalengka dan Cirebon, akhirnya waktu start pun molor menjadi sekitar pukul 19.30 WIB. Perjalanan malam pun dimulai, hawa dingin menusuk jiwa dan raga ini, tapi semangat bertualang mengalahkan itu semua.

 photo darajat.png

Peta menuju Darajat Pass (dari Jatinangor)

Continue reading

Categories: Jawa Barat, Traveling | Tags: , , , | Leave a comment

Jalan – Jalan Sore ke Garut via Kamojang

Sebenarnya JJS ini sama sekali tidak terencana dan tidak terpikirkan untuk mencobanya. Tapi tak disangka tak dinyana, justru karena ga ada planning sama sekali perjalanan ini akhirnya terwujud. Bahkan ditemani oleh seorang wanita (Jarang – jarang bro, touring bersama wanita, biasanya single fighter saja).

Seperti biasa, berawal dari baca blognya bang nunoo.wordpress.com, saya pun terinspirasi dan menginginkan untuk mencoba jalur Bandung – Garut via Kamojang. Kira – kira semester kemarin, tepatnya bulan Mei, saat itu sedang lieur – lieurnya ngerjain laporan PLA, jadi pengen agak ngebolang ke luar kota. Niat awal sebetulnya mau single fighter saja, tapi kebetulan ngeliat Ibu Vini merenung terus saya pun mencoba mengajaknya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Ibu Vini begitu semangat diajak ngabolang oleh saya. Okelah berhubung niatnya pengen JJS jadi kami berangkat siang hari, ba’da shalat dhuhur dari kampus tercinta Universitas Pendidikan Indonesia.

Berhubung Bandung – Garut via cileunyi sudah terlalu mainstream, akhirnya sesuai arahan kang nunoo kami pun mencoba jalur Bandung – Majalaya – Ibun – Kamojang – Samarang – Garut.

Sekitar 2 jam perjalanan kami baru sampai Majalaya.. Macet pisaannnn😥 soalnya lewat jalur Ledeng – Buah batu – Banjaran – Ciparay – Majalaya yang memang terkenal macet.

 photo Kamojang.png

Jalur menuju Kamojang

Keterangan :

Point B : Buah Batu
Point C : Ciparay
Point D : Majalaya
Point E : Ibun
Point F : Kamojang
Point G : Samarang
Point H : Banyuresmi

Continue reading

Categories: Jawa Barat, Traveling | Leave a comment

Touring Jejak Kemakom ke Pantai Sawarna

8 Maret 2013

Perjalanan menuju Pantai Sawarna di Provinsi Banten dimulai dari kampus tercinta kami, jam 13.30 WIB. Karena ngaret dan hal-hal lainnya perjalanan mulai sekitar 14.30. Touring dengan 11 motorpun dimulai.

IMG_4352

Perjalanan lancar sampai akhirnya ketika magrib kami memutuskan untuk berhenti di daerah Sukabumi. Sekaligus peregangan otot-otot yang tegang. Perjalanan masih jauh.. kami memutuskan untuk berhenti lagi saat makan malam ketika memasuki daerah Pelabuhan Ratu Sukabumi.

Tiba di Pelabuhan Ratu sekitar jam 22.00 maka akhirnya diputuskan untuk stay di kawasan pantai Pelabuhan Ratu daripada memaksakan melanjutkan perjalanan ke Sawarna, mengingat sudah lalu malam, badan lelah dan jalanaan berbahaya untuk perjlanan malam, bolong sana sini.

Tiba di salah satu spot Pantai, berhubung sudah malam, tidak banyak yang dilakukan langsung buka peralatan tidur, matras, sleeping bag, tidur dimana saja, yang penting disertai deburan ombak.

Silahkan, potongan gambar yang berbicara :

IMG_4474

IMG_5259 IMG_5244 IMG_5181 IMG_5144 IMG_5120 IMG_5065 IMG_5016 IMG_5012 IMG_4995 IMG_4940 IMG_4916 IMG_4913 IMG_4882 IMG_4843 IMG_4835 IMG_4793 IMG_4769 IMG_4753 IMG_4692 IMG_4669 IMG_4613 IMG_4605   IMG_5144

IMG_5291

IMG_5302

Categories: Beach, Jawa Barat, Traveling | 1 Comment

Blog at WordPress.com.