Caving ke Goa Lakasa, Pulau Buton Sulawesi tenggara

Jalan menuju Goa lakasa

Goa Lakasa. Keajaiban dalam perut bumi tanah Wolio Pulau Buton.

Jauh sebelum saya menginjakkan kaki di Pulau Buton yang permai dan panas ini, selayaknya seseorang yang hendak mengunjungi suatu daerah pastilah yang pertama-tama dicari melalui om Google itu daerah wisatanya. Melalui salah satu akun facebook wisata, ditemukanlah poto dari Goa Lakasa yang terletak di Kota Bau-bau. Dalam hati, saya harus kesana saat berada di Bau-bau nanti.

Trip kali ini telah saya rencanakan seminggu sebelumnya bersama team Laskar Buton yang terdiri dari saya, Baloy dan Bopa serta satu teman saya asli Buton. Berangkat dari Pasarwajo yang menjadi titik awal trip ini, kami melangkah pasti menuju Kota Bau-bau dengan jarak yang hanya sekitar 1 jam tempuh menggunakan pete-pete dengan ongkos 15.000.

Lapangan Tembak Bau-bau menjadi terminal pemberhentian pete-pete di Bau-bau. Dengan Ojeg saya menuju Lorong Swiss. Menurut teman saya si Baloy, kita kumpul dirumah tinggalnya di Lorong Swis. Tak usah ragu tak usah bimbang, semua tukang ojeg tau Lorong Swis. Serius Lorong Swis? Oke jadi gini… kenapa Lorong Swis. Lorong itu ternyata adalah sebuah gang, lalu Swis itu singkatan dari Samping wilayang Stadion. Oke boleh lah.. kreatif. Setelah menjelajah Bau-bau ada nama-nama lorong yang unik, salah satunya Lorong Manohara. (yang tau gosip pasti ngerti kenapa nama Manohara)

Merencakan trip di Kota Bau-bau ini selalu pantai yang menjadi tujuan. Tapi kali itu saya ngotot harus ke Goa Lakasa. Pertamanya di tentang. Tapi dengan tekad kuat dan bermodal cari info dan sebagainya, akhirnya teman yang lain mengalah dan nurut dengan permintaan saya untuk ke Goa Lakasa.

Goa Lakasa terletak di Kelurahaan Sulaa. Sekitar 30 menit dari pusat kota melewati jalanan yang gersang tibalah persimpangan jalan kehidupan yang penuh liku-liku  setelah Bandara Batoeambari. Dikiri jalan ada petunjuk arah ke Goa Lakasa, 600 meter katanya. Agak menanjak, ada petunjuk lagi dikiri jalan, 50 meter menuju Goa Lakasa. Semakin mendekat dengan si Goa. Simpan motor dan menuju rumah panggung yang merupakan tempat meminta izin untuk caving goa.

Setelah meminta izin dan bertanya seperlunya. Ternyata tak perlu bayar uang loh untuk masuk ke dalam goa. Senterpun dipinjamkan secara gratis. Hueheheee enak banget ya. Tapi kita masuk goa tanpa guide, seperti biasa modal sotoy dan keberuntungan. (padahal serem juga tanpa guide)

Mulut Goa Lakasa ini kecil, dilihat dari mulutnya jalan terus menurun kebawah, gelap gulita hanya berharap pada senter kepala yang saya pakai, senter hp, senter powerbank, senter abal-abal lainnya. Dengan formasi Baloy sebagai ketua rombongan, Bopa jalan dibelakang abang dengan baju yang tidak matching untuk caving (pakai jeans, kemaja, sepatu flat dan tas cewek), diikuti oleh KakNeni yang pakai baju hampir sama dengan Bopa, benar-benar tidak siap caving (bae wae lah nu penting happy), lalu yang jalan terakhir alias paling belakang itu saya sebagai penerang jalan dengan jiwa berani menantang goa Lakasa. Huahahaa

Menuju Goa Lakasa kita semua berujar seperti sedang “Journey to the center of earth” lalu seperti menonton film Sanctum. Jalan terus menurun, curam, licin, jalan diantara batu-batu staklit dan stalagmit yang tajam, bahkan banyak juga yang telah menyatu. Jalan yang kita lalui hanya berpatokan pada kabel putih. Di dalam Goa Lakasa juga terdapat lampu-lampu yang sepertinya menjadi sumber penerangan, tapi pada saat itu lampunya ga nyala tuh.

Formasi Stalagmit di Goa Lakasa

Goa Lakasa

 

Keindahan Goa kita dapat nikamati dari pertama turun kebawah, formasi dari stalaktit dan stalagmit sangat beragam, di langit-langit dan dasar goa. pada langit-langit kita seakan-akan berada pada sebuah istana dengan ornamen yang sangat indah. Umur dari stalaktit dan stalagmit ini dapat kita pastikan sekitar ribuan tahun, karena telah banyak yang menyatu membentuk tugu-tugu. Coba kita pukul-pukul batu tersebut, menghasilkan bebunyian yang mirip angklung. Keindahan talaktit dan stalagmit ini akan dibungkus oleh keindahan lainnya, yaitu keberadaan telaga atau sumber air yang jernih, segar dan enak seperti rasa air mineral yang kita biasa beli di warung.

Tim Caving Goa Lakasa

Kami putuskan untuk nyemplung, renang disana. Byuuuuurrrrr renang, lalu poto-poto underwater pake hp si Baloy, bikin video dan segala macam. Segar sekali airnya, dingin dan enak (sempet saya coba minum saking isengnya. doh)

Jadi.. seperti itulah caving di Goa Lakasa ini. Untuk ukuran kondisi fisik saya yang pada saat itu sedang agak tidak fit karena begadang semalamam, caving ini tidak terlalu melelahkan. Walaupun kaki bagian tulang kering sering kepentok bau dan alhasil biru-biru serta tangan luka terkena batu yang tajam. Jadi, harus hati-hati selama melakukan caving di Goa Lakasa ini. Diusahakan memakin celana yang nyaman, sepatu atau sandal khusus dan membawa senter yang bagus.

Ada satu bagian dari caving ini yang membuat sangat berkesan. Kita berempat berhenti disalah satu ruangan agak besar dan datar, mematikan semua penerangan, gelap gulita. Akhirnya kita merenung, dan saya nangis. (saya sih engga nangis tersedu-sedu yang seperti dibayangkan, cuma berkaca-kaca lebih tepatnya, soalnya ada luka di kaki. haha)

Goa Lakasa

Goa Lakasa

 

Categories: Activity, Caving, Sulawesi Tenggara | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: